Thursday, October 2, 2014

Akibat Perbedaan Idul Adha di Indonesia dan Makkatul Mukarromah

Bulan sebagai waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakan ibadah haji adalah 2 bulan sepuluh hari (Q.2:197). dimulai dari tanggal 1 Syawal s/d 10 Dzulhijjah. Sebagai kesepakatan tokoh mujtahid: Abu Hanifah, Muhammd ibn Idris Assyafii dan Ahmad ibn Hambal yang didasarkan pada hadits riwayat Al Bukhori dari Ibnu Umar sebagai tafsiran dari ayat: 2:197.

Yaumunnahri yang disebut juga sebagai "haji akbar" berdasarkan hadits sahih yang diriwayatkan Al Bukhori dan Abu Dawud.
Tanggal 10 Dzulhijjah disebut haji akbar atau yaumunnahri, karena pada hari ini adalah akhir dari pelaksanaan rukun haji diselesaikan, seperti melempar 7 batu di Aqobah, nahar atau penyembelihan dam atau denda karena pelanggaran haji, cukur atau potong rambut, tawaf dan sya'i sebagai tawaf ziarah atau tawaf ifadhoh. Apabila 3 rukun haji, seperti romyul jumroh aqobah, cukur atau potong sebagian rambut dan melaksanakan tawaf fardhu atau ifadhah yang disebut tawaf ziarah pada tanggal 10 Dzulhijjah berarti sudah tahallul tsani, bebas dari hal-hal yang diharamkan sebelum melakukan ihram haji (muhrim), termasuk nikah dan koitus. Apabila seorang muhrim hanya bisa melakukan 2 dari 3 rukun haji, maka dia hanya memasuki tahallul awal, yang berarti bebas melakukan segala sesuatu kecuali nikah atau koitus. 

Sebagian rukun dan sarat sahnya haji adalah wukuf di Arafah, termasuk tanah haram Makkatul Mukarromah, tanpa mengikuti wukuf di Arafah, semua amalan haji tidak dianggap sah secara hukum dan harus diulang tahun berikutnya. Wukuf di Arafah adalah merupakan inti dari rukun haji yang lain.

Wukuf Arafah tahun 1435 H ini jatuh tepat pada hari Jum'at tanggal 3/10/2014 dan Idul Adha di Makkah pada hari Sabtu.
Pebedaan hari raya Idul Adha di Indonesia dan Makkah karena perbedaan "mathla'il fajri", terbitnya matahari, kemungkinan tidak menjadi masalah, akan tetapi, jika dikaitkan dengan pelaksanaan puasa tarwiyah dan Arafah, maka hukumnya adalah berubah, karena wukuf Arafahnya orang muslim seluruh dunia terjadi pada hari jumat, maka puasa Arafah umat islam seluruh dunia harus disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan haji di Makkah. Pada hari raya idhul fitri dan idhul adha serta aiyamuttasyrik adalah haram hukumnya. 

والله اعلم با لصواب

Tuesday, September 2, 2014

Manusia Sebagai Titisan Allah Dalam Al Quran dan Hadits

Titisan berarti rembesan atau limpahan dan pemberian secara halus yang diterima oleh seseorang dari Allah secara yakin.

عن ابي هريرة ر.ع قال قال رسول الله ص.م.إن الله تعالي قال: من عادي لي ول سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها ولإإن سألني لأعطينه ولإإن استعاذني لإلأعيذنه رواه البخازي 

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: Sesungguhya Allah berfirman: "Barang siapa yang memusuhi kakasih-Ku, maka Aku akan memeranginya. Suatu perbuatan yang dilakukan hamba-Ku yang paling Aku senangi ialah amalan fardu yang diwajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang selalu melakukan amalan sunnah, maka Aku selalu menyintainya.Dan apabila Aku menyintainya, maka Aku menjadi alat pedengaran yg dipergunakan untuk mendengarnya, menjadi matanya yang dipergunakan untuk melihatnya, menjadi tangannya yang dipergunakan untuk memukulnya dan menjadi kakinya yang dipergunakan untuk berjalan. Dan apabila dia meminta kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya dan apabila dia minta perlindungan, maka Aku akan melindunginya. (متن الآربعين النوويه : الثامن والثلآثون).

Maqom seseorang yang berada dalam kondisi seperti yang terkandung dalam hadits ini, adalah benar dalam kondisi "ikhsan" seakan-akan melihat Allah dalam perjalanan ibadahnya; mahdhoh atau ghairu mahdhoh, atau makrifat billahi. Dalam istilah tasawuf disebut "fana' atau baqo'", dalam arti aku tidak melihat sesuatu selain Allah atau aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah saja yang menguasai.

Pengertian ini bukan berarti seperti manunggaling kawula gusti dalam keyakinan Kristiani atau hululnya Husen bin Mansyur Al Halaj (w.309 H) dan bukan akidah "wihdatul wujud", model pemikiran Muhyiddin Ibnul Arabi (w.638 H) yang meyakini: bahwa alam semesta pada hakekatnya adalah wujud Allah.

Memahami makna hadits qudsi diatas ialah meyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta, dari bagian atom yang paling kecil sampai planet yang paling besar seperti arasy, seluruhnya adalah sudah didesain, dipola/tashwir dan diciptakan oleh Allah, termasuk seluruh anggota dan jaringan tubuh manusia. 

Orang- orang yang tergolong dalam kelompok ini ialah mereka yang hatinya bergetar ketika mengingat kekuasaan dan kebesaran Allah, dan bertambah iman dan keyakinannya ketika memahami tanda-tanda keagungan Allah di alam semesta melalui Al Quran.(QS.8:2-4).

Orang-orang yang meyakini, bahwa Allah adalah sebagai Tuhan yang mengatur segala macam aspek kehidupanya dan istiqomah, disiplin dan tertib dalam mengamalkan nilai-nilai keagamaannya, akan selalu mendapat dukungan dan dorongan Malaikat untuk tidak terjerumus ke dalam kesedihan dan rasa takut, dirangsang untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. (QS.41:30-31). 

Dua ayat dibawah ini akan menguatkan pemahaman tentang "titisan Tuhan" di atas:

  فلم تقتلوهم ولكن الله قتلهم وما رميت اذ رميت ولكن الله رمي.. (٨:١٧)
قاتلوهم يعذبهم الله بايديكم ويخزهم وينصركم عليهم ويشف صدور قوم موءمنين (٩:١٤)

Bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuhnya, dan bukan kamu yang melemparkan debu kepada mereka, akan tetapi Allah yang melemparkanya...
Bunuhlah mereka, Allah menghukum mereka dengan perantaraan tangan kamu, Allah menghinakan mereka, menolong kamu untuk mengalahkan mereka dan memberikan kepuasan hati orang-orang mukmin.

Thursday, August 28, 2014

Meningkatkan Pendidikan Umat

Islam adalah nilai dan makna yang tersebar dalam kandungan ayat ayat Al Quran dan Sunah Rasul.
Muslim adalah orang yang memeluk agama islam secara fikhiyah: syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Sendi keislaman ini bagi mayoritas umat Islam masih bersifat ritual yang kosong dari keimanan yang bersendikan enam keimanan:

ولما يدخل الإيمان في قلوبكم...٤٩:١٤

...keimanan belum masuk ke dalam hatimu..

Kebodohan kebanyakan masyarakat awam di negeri ini dan negara berkembang lainnya adalah kesalahan kita semua: orang-orang pintar, cendekiawan dan ulama al-amilin yang tidak mengajari mereka secara ikhlas tentang agama Islam yang hak sesuai dengan aslinya, tidak mengajari mereka tentang bermasyakat dan bernegara serta berpolitik yang Islami. Jangankan orang awam, tokoh agama dan para ulama saja banyak yang tidak paham politik dan ketatanegaraan, mereka sangat cerdas dan paham tentang kehidupan material duniawi, mereka lupa bahwa kehidupan dunia ini adalah merupakan jembatan menuju kebahagiaan akhirat dengan mengendarai kubur seluas 2x0,5 m. dengan seragam kain kafan.

Allah berfirman:

يعلمون ظاهرا من الحياة الدنيا وهم عن الأخرة هم غافلون

Mereka mengerti tentang kehidupan dunia secara nyata, akan tetapi mereka lupa untuk menyiapkan kebahagiaan di akhirat.

Tidak ada jalan untuk menyelamatkan umat islam di negeri ini kecuali dengan meningkatkan pendidikan dan pengajaran Islam secara murni, tidak bersifat sektarian dan terkotak-kotak secara fanatisme, dari tingkat yang paling rendah/anak-anak s/d manula dalam seluruh aspek kehidupan. Apabila hal ini tidak bisa kita laksanakan, maka keberadaan umat yang bermuatan keawaman ini akan tetap seperti kerbau tusuk hidung, ikut dan taklid buta terhadap pimpinan/panutannya.

Allah berfirman :

واذا قيل لهم إتبعوا ما انزل الله قالوا بل نتبع ما وجدنا عليه أبآنا أولو كان الشيطان يدعوهم الي عذاب السعير٣١:٢١

Apabila diperintahkan kepada mereka untuk mengikuti Al Quran yang duturunkan oleh Allah, mereka menjawab: kami tetap mengikuti tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang kami. Apakah kamu tetap mengikuti mereka, walaupun mereka diajak oleh setan untuk masuk ke neraka yang membara.

Tanpa ilmu Ilahiyah, yang tertuang dalam. Al Quran dan Sunah, siapapun pasti akan mengikuti hawa nafsu yang akan menjerumuskan ke jurang kesesatan. 
Baca: QS.30:29.

Tuesday, June 17, 2014

Makrifatullah

Proses peningkatan kualitas jati diri seorang muslim, adalah melalui tahapan yang harus ditempuh dari tingkat yang paling rendah s/d tingkatan yang tertinggi, yaitu: islam, iman dan ikhsan, sebagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan oleh Jibril terhadap Muhammad SAW di hadapan para sahabat.

Materi ajar inilah yang kemudian dikenal dengan: rukun/sendi dasar islam: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, rukun iman yang terdiri dari: keyakinan terhadap adanya Allah, Malaikat, Kitab Samawi, Para Rasul, Qodho' dan Qodar dan Hari Qiyamat dan kelanjutanya. Dan tingkat berikutnya adalah "ikhsan", atau makrifat dan hakikat, menurut kelompok sufiyah, orang-orang syiah menyebut dengan istilah "irfan".

Dalam bahasa hadits "ikhsan" berarti beribadah-tunduk dan patuh kepada syariat agama dalam seluruh aspek kehidupan dunia-kepada Allah, seakan-akan melihat-Nya, atau meyakini bahwa Dia melihat kita. Allah SWT  bisa dilihat oleh mata kepala manusia dalam keadaan jaga atau mimpi dalam keadaan tidur, karena Allah tidak terdiri dari materi atau yang menempel pada materi, seperti warna, suara atau sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera. siapapun tidak bisa melihat Zat Allah, walaupun seorang wali yang paling tingi derajatnya. Musa As ketika hadir di Turisina untuk menerima Taurat, dia mohon kepada Allah untuk menampakkan diri-Nya, agar bisa melihat-Nya dengan mata kepalanya, Allah menjawabnya:
...لن تراني...٧:١٤٣

...Engkau tidakakan bisa melihat Diriku...

Puncak tertinggi dan tujuan yang harus digapai oleh seorang mukmin yang sudah melalui perjalanan islam, iman dan taqwa yang tepat dan benar adalah makrifat atau ikhsan itu. Sebagaimana puncak tujuan yang dicapai para sufiyah.

Ada dua cara untuk mencapai "makrifat" ini, yaitu dengan cara: shuhudi huduriyah, pengenalan langsung kepada Allah, tanpa melalui proses pemikiran otak manusia, yang dikenal dengan istilah "majdub atau jadab dan fana'", makrifat tanpa melalui jalan belajar atau suluk. Tidak bisa diajarkan dan ditransfer  kepada orang lain. Kedua "makrifat khushuli", diperoleh melalui pemikiran secara mendalam, tidak langsung mengenal Allah secara khuduri, akan tetapi melalui pemahaman terhadap syariat agama, mengenal asma', sifat dan afa'al Allah yang dikenal dengan suluk. Dan jalan yang paling tepat dan dominan untuk mencapai kebenaran makrifat secara akurat ialah memahami makna ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan kekuasaan dan kebesaran  Allah dalam penciptaan alam semesta ini, terutama memahami secara ilmiyah ayat-ayat kauniyah dalam Al Quran dan hubungannya dengan kemajuan pemikiran ilmuwan barat tentang sains dan teknologi, yang banyak mendukung kebenaran kandungan Al Quran dibanding analisis kitab-kitab tafsir klasik.

Semua orang, termasuk Nabi dan Rasul untuk mencapai tingkat makrifatullah, sebagaimana terbukti secara empirik historis dalam paparan ayat-ayat Al Quran adakah proses makrifat khushuli. Musa As pd ayat : 7:143, belum mengerti jika Allah tidak bisa dilihat oleh mata kepala Ibrahim As pada ayat 2:260, belum mengerti bagaimana cara Allah menghidupkan orang yang sudah mati, juga diajarkan kepadanya untuk mengenal Allah melalui terbit dan tenggelamnya bintang, bulan dan matahari, Nabi Muhammad Saw untuk memperoleh wahyu pertama, berupa 5 ayat dari surat Al Alaq di gua Hira, 3 tahun sebelumnya semadi dan uzlah di gua itu dan sering disambangi Israfil.

Fenomena kenabian ini,  membuktikan, bahwa makrifat yang ditempuh dan dicapai oleh para Nabi adalah melalui proses marifat khushuli, bukan melalui makrifat khudhuri. (Risalah Al Qusyairiyah : Abul Qosim, Maariful Quran, Al Ustadz Taqiyul Misbakh, Al Hikam, Ibnu Athoillah Assakandary).

Makrifat khushuli sebagaimana yang saya kemukakan diatas, adalah berdasarkan petunjuk dan hidayah Allah dalam Al Quran:

سنريهم اياتنا في الافاق وفي انفسهم حتي يتبين لهم انه الحق اول يكف بربك انه علي كل شيء شهيد .٤١:٥٣

Aku akan tunjukkan kepada mereka bermacam-macam bukti kekuasan-Ku dialam semesta dan di dalam diri mereka, sehingga tampak jelas bagi mereka, bahwasanya Allah adalah pemilik kebenaran yang mutlak. Apakah tidak cukup bagi Tuhanmu, bahwa Dia adalah melihat segala sesuatu.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وفي انفسكم افلا تبصرون .٥١:٢١

Apakah kamu tidak meneliti secara cermat tentang struktur tubuhmu, secara fisik dan non fisik.

Hadits shahih di bawah ini akan menambah pemahaman terhadap ayat-ayat di atas:

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Barang siapa yang mengetahui dengan cermat struktur tubuhnya secara biologis, fisiologi dan psiklogis, maka dia akan mengenal (makrifat) Tuhan sebagai Penciptanya Yang Maha Alim dan Maha Cermat.

Yang dimaksud dengan makrifat dalam rangkaian pembahasan di atas, adalah makrifat yang mendorong dan merangsang seorang mukmin yang bertaqwa untuk melasanakan seluruh nilai keislaman yang berupa akidah, akhlaq dan hukum amali tepat dan benar, sesuai dengan tuntunan dan hidayat Al Quran dan Hadits (islam skriptual).

Makrifat semacam ini adalah merupakan keniscayaan yang menjadi tujuan hidup manusia sebagai hamba Allah. Al Quran memberikan isyarat untuk mencapai tujuan ini:

انما الموءمنون الذين اذا ذكر الله وجلت قلوبهم واذا تليت عليهم ايته زادتهم ايمانا وعلي ربهم يتوكلون. ٨:٢

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang memiliki keimanan secara sempurna, hatinya merasa takut, ketika mengingat Allah. Dan mereka akan bertambah nilai keimanannya, ketika memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya. Dan mereka akan berserah diri kepada syariat Tuhannya.

ربنا زدنا علما نافعا وفهما صحيا عميقا وقلبا خاشعا وعملا مقلبولا

Dikabulkannya Do'a

Menanggapi pesan yang dikirim seorang ikhwan melalui media sosial :
@>--Malam Istimewa @>-- 

Rosul SAW Bersabda :
 "Ada 5 malam yg jika kita Berdo'a takkan ditolak Do'a kita , Malam Jum'ah , Malam Nishfu (15 Sya'ban) Malam Lailatul Qodar , Malam Idul Fitri & Malam Idul Adhha"
(*) Tahun ini Malam 15 (Nisfu) Sya'ban jatuh pd Malam Jum'ah tgl 12 Juni 2014 yg Berarti 2 Malam Kemuliaan itu Bergabung menjadi Satu
(*) Pada Malam itu Do'a kita Pasti akan di Ijabah
 Malam Penentuan Nasib (yg org bilang Malam Penggantian Buku)
Malam penuh Berkah
(*) Para Ulama ahlus Sunnah Wal Jama'ah telah memberi Bimbingan utk membaca surah Yasin 3 x utk mrk yg mampu atau membaca surah Al-ikhlas ketika teman2 yg lain sdg membaca surah Yasin
 Bacaan Pertama dg Niat Panjang Umur dlm To'at beribadah..
 Bacaan yg ke 2 niat minta diberi Rizki yg Halal , cukup & Berkah
 Bacaan ke 3 Niat minta diwafatkan dlm keimanan (Husnul Khotimah)
:) Pada Mlm itu sgl Do'a Pasti di ijabah asal berdo'anya dg Ikhlas & Yaqin , kecuali :
 "Pemabuk"
 "Org yg Durhaka kpd org tua nya"
 "Org yg memutuskan Tali Silatur Rahmi"
 Tukang Tenung / Dukun Santet
Do'a mrk takkan di ijabah kecuali Mrk Bertobat dg Tobat Nasuhah
@>-- "Rosul Bersabda "
Siapa saja yg menyampaikan Kabar kebaikan , Mk dia akan Mendapat Pahala sebanyak orang yg Melakukannya dan takkan dikurangi Pahalanya sedikit Pun
@>-- Kirim se banyak2 nya kpd Teman2 agar Malam keberkahan itu akan Menjadi Syi'ar Islam , alunan Al-Qur'an menggema dan Pahala yg kita dapat semakin Banyak
Semoga اللّهُ berkenan menuntun kita utk dapat berbuat Baik , makin Baik & terus Baik smp akhir Hayat kita...

Tanggapan :
Doa-doa akan dikabulkan Allah dengan syarat kepatuhan dan penundukan terhadap semua perintah dan larangan yang telah disyariatkan yang didasari dengan keimanan yang kokoh dan ikhlas. Tanpa melihat waktu dan tempat, terutama disaat melakukan shalat malam. Tidak harus dilakukan pada malam jumat, idul fitri dan idul adha dan nisfu syakban dan malam lailatul qodar.

Terutama doa itu akan dikabulkan oleh Allah, apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dalam keadaan krisis, seperti pada saat peperangan.
Hadits tentang nisfu syakban itu umumnya dhaif tidak bisa dipakai sebagai dalil. Di dalam Dunia Islam ada analisis amalan yg dilakukan pd.nisfu syakban,coba dibaca.
Hadits yang memastikan dikabulkanya doa seseorang, pasti hadits yang tidak benar dan sah dari Nabi SAW. Di saat perang Uhud umat islam mengalami kekalahan yg menyedihkan, karena adanya sebagian kecil sahabat yang tidak mematuhi perintah untuk bertahan dalam posisi yang telah ditentukan sebelum perang selesai. Bagaimana doa Nabi tidak mustajab, apa sebabnya ? ingat dan baca Al Quran : 2:186 yang menjelaskan keberadaan Allah yang akan mengabulkan doa seseorang.

Tentang kekalahan yang cukup menyedihkan Nabi dalam perang Uhud, baca Al Quran : 3:165.
Dikabulkan suatu permohonan doa, adalah tergantung kepada keimanan, kesalihan dan keikhlasan individu seseorang yang nyambung dengan Tuhannya. Seakan-akan kita melihat atau merasa dilihat-Nya.
Karena Allah yang penuh dengan kasih sayang yang kita yakini akan mengabulkan suatu permintaan tertentu, mungkin Dia akan memberikan seuatu yang lain yang lebih baik daripada permintaan kita menurut pandangan Allah, walaupun menurut keinginan kita kurang baik. Kita harus ridha dan tafwidh (menyerah).

Friday, June 13, 2014

Sarapan Pagi 15 Syaban 1435 H

Makin tinggi martabat seseorang dalam kehidupan material duniawi, pasti makin besar angin yang menerpa dan menggoncang perjalanan hidupnya, oleh karena itu, bangunan intelektualnya harus bertambah cerdas dan cermat, hati-hati dan teliti, sebaran emosionalnya mesti bergerak secara kontinyu dan istiqomah, dan daya spiritualnya harus ditingkatkan untuk menggerakan perjalanannya menuju keridhaan Allah.

Seluruh potensi tersebut harus disertai dengan ibadah : shalat, fardhu dan sunat secara khusyu' dan khudhu', seakan-akan melihat dan merasa dilihat oleh Penciptanya.
Berikutnya, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pekerjaan yang benar dan halal. Sebab pekerjaan yang tidak proporsional dan profesional akan menimbulkan bencana kemaksiatan bagi diri dan keluarganya.

Membagi waktu dalam "time schedul", yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari: untuk kerja, istirahat, olah raga, makan dan minum secara tertib, serta ibadah yang khusyu', tidak tegesa-gesa, karena ditunggu pekerjaan yang belum selesai.
Lakukan shalat dhuha, walaupun hanya 4 rakaat dan shalat malam ; tahajjud dan witir 11 rakaat. Usahakan agar supaya nikmatnya bermunajat dengan Allah di tengah keheningan malam, ini lebih lezat dan khidmat daripada menguasai uang ratusan atau milyaran rupiah.

والذين جاهذوا فينا لنهذينهم سبلنا وان الله لمع المحسنين.(٢٩:٦٩

Orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menggapai-Ku, pasti Kami tunjukkan jalan kebenaran itu. Dan sesungguhnya Allah akan melindungi orang-orang yang melakukan kebaikan.

Angkatlah karir (carry) kehidupan dunia dan akhiratmu, sesuai dengan ridha Allah. (QS14:7,13:11,93:11).

Dihidangkan untuk sarapan pagi 15 Syaban 1435 H.